Pakasam,metode pengawetan ikan khas Banjar

Di saat produk makanan kita dihantui oleh penggunaan bahan pengawet formalin, masyarakat Banjar sudah terlebih dahulu mengenal sebuah metode pengawetan ikan yang membuat ikan dapat diawetkan sehingga mampu bertahan hingga beberapa hari. Cara ini dikenal masyarakat Banjar dengan nama iwak pakasam atau iwak samu.
Iwak pakasam memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan peluang usaha yang menguntungkan. Saat ini saja harga seperempat kilogramnya mencapai lima ribu rupiah. Harga ini hanya untuk iwak pakasam yang bahannya terbuat dari ikan sepat, untuk ikan gabus atau pun ikan yang lain tentunya harganya lebih mahal lagi.
Anak sekarang tentu sudah mulai asing jika mendengar kata pakasam. Maklum, menu iwak pakasam sangat jarang ditemukan di restoran-restoran di kota Banjarmasin. Untuk restoran-restoran masakan khas Banjar saja menu ini sudah sangat sulit untuk didapat. Sekarang di restoran-restoran kita lebih sering ada menu ayam goreng tepung, capcay ataupun makanan yang lainnya yang berasal dari luar daerah.
Pakasam bagi sebagian orang di kabupaten Banjar tepatnya diderah Pemurus Dalam masih merupakan salah satu upaya agar dapat mengawetkan ikan yang mereka tangkap selain sebagai mata pencaharian tentunya. Cara mereka mendapatkan ikan adalah dengan cara merengge atau meringgi, yaitu dengan cara menangkap ikan menggunakan jaring yang dibentangkan lurus dan panjang sehingga ikan tersangkut di dalamnya. Hasilnya, dalam sehari akan didapat ikan kurang lebih dua kilogram. Untuk satu keluarga hasil sebanyak ini tentu berlebih, makanya mereka memilih untuk membuat iwak pakasam, selain dapat mengawetkan ikan yang sudah didapat, hasil penjualannya sangat cukup untuk biaya belanja keluarga.
Tidak jelas sejak kapan cara pengawetan ikan seperti ini ditemukan, yang pasti orang-orang tua dulu sudah mengetahui resepnya secara turun-temurun. Untuk diketahui, ada sedikit perbedaan rasa untuk iwak pakasam dari daerah Hulu Sungai dengan yang dibuat di Banjar. Rasa pakasam yang buatan Hulu Sungai lebih berasa masam dibandingkan rasa pakasam Banjar. Hal ini mungkin karena proses fermentasi pakasam Hulu Sungai lebih lama sehingga rasanya berubah menjadi sedikit lebih masam.
Pakasam merupakan sebuah solusi bagi kita untuk dapat menghilagkan rasa takut kita terhadap banyaknya bahan makanan berformalin yang disinyalir terdapat dalam makanan kita. Namun, bagi yang menderita hypertensi atau darah tinggi harap sedikit bersabar jika ingin memakan iwak pakasam. Soalnya kandungan garam di dalamnya lumayan banyak jadi harus hati-hati dan jangan berlebihan mengkonsumsinya. Iwak pakasam sangat nikmat dihidangkan dengan nasi putih panas disaat perut kita sedang lapar-laparnya. Sekali coba anda mungkin akan ketagihan.
Berikut adalah cara membuat pakasam.
Bahan :
Ikan sepat.
Beras.
Garam.
Minyak goreng.

Cara membuat :
Ikan dibersihkan hingga sisik dan isi perut ikan tidak ada lagi.
Beras disangrai hingga berubah warna menjadi kuning kemudian ditumbuk.
Campur ikan dengan garam dan beras tumbuk secukupnya.
Iwak pakasam anda dapat disajikan setelah difermensikan kurang lebih selama satu hari.
Jangan lupa disajikan setelah digoreng.
Sedikit tips untuk membuat paksam lebih sedap yaitu dengan menambahkan beras tumbuknya lebih banyak saat anda membuat pakasamnya.

Diterbitkan di: on Desember 7, 2008 at 11:52 am Tinggalkan sebuah Komentar

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://1hsan06.wordpress.com/2008/12/07/pakasammetode-pengawetan-ikan-khas-banjar/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Leave a Comment